Review 4. Sejarah Desa panjunan


Review 4. Sejarah desa panjunan
Sejarah Panjunan bermula saat seorang Pangeran Arab dari Baghdad yang bernama Maulana Abdul Rahman datang ke Cirebon untuk berguru Agama Islam kepada Sunan Gunung Djati. Sang pangeran beserta keluarga dan rombongannya dari Baghdad memutuskan untuk menetap di suatu tempat yang letaknya tidak jauh dari Pusat Kerajaan Cirebon. Selain belajar dan mengembangkan agama Islam, sang pangeran dan para pengikutnya juga bekerja sebagai pengrajin gerabah atau keramik sebagai mata pencaharian mereka, karena itulah sang pangeran mendapat julukan Pangeran Panjunan dan daerah yang mereka tempati kemudian dikenal dengan nama Panjunan. Kata Panjunan diambil dari kata Jun yang berarti keramik. Walaupun di sini sudah tidak ada lagi pengrajin gerabah, namun sampai saat ini  terdapat beberapa warga yang masih eksis mencari nafkah sebagai pedagang gerabah.

Kelurahan Panjunan juga dikenal sebagai Kampung Arab, karena di daerah ini banyak terdapat warga keturunan Arab yang sudah tinggal secara turun temurun sejak Pangeran Panjunan dan para pengikutnya menempati daerah ini.

 .Di Panjunan juga masih dapat kita jumpai jejak-jejak sejarah kota Cirebon, seperti Masjid Merah, yaitu sebuah Masjid tua yang didirikan pada tahun 1453, jauh lebih tua dari Masjid Agung Keraton Kasepuhan Sang Cipta Rasa yang didirikan pada tahun 1549. Masjid Merah didirikan pada masa-masa awal perkembangan Agama Islam di Cirebon. Dikatakan Masjid Merah, karena hampir seluruh dinding masjid dan tembok pagarnya di dominasi warna merah mencolok. Arsitektur masjid ini masih kental dengan nuansa arsitektur Hindu-Budha Majapahit. Jejak-jejak hubungan antara Cirebon dengan kekaisaran China pada masa itupun, masih jelas terlihat pada beberapa keramik yang tertanam baik di bagian tembok pagar masjid maupun di bagian dalam masjid. Masjid yang ukurannya tidak terlalu luas ini juga memiliki gapura khas Cirebon pada pintu gerbangnya, sehingga menambah masjid ini semakin menarik.


Tidak hanya potensi wisata sejarah saja yang terdapat di daerah ini. Panjunan juga menyimpan potensi lain, yaitu wisata kuliner, tidak jauh dari Masjid Merah terdapat penjual mi koclok, yang telah berjualan sejak puluhan tahun yang lalu. kuliner khas Cirebon yang terbuat dari mi kuning, dengan kuah putih kental dan gurih yang terbuat dari beras dan santan, di tambah dengan sisiran daging ayam dan irisan telur rebus. Membuat makanan ini terasa begitu lezat, apa lagi sambalnya yang dapat menambah selera makan kita bertambah lahap. Pada sore hari, di seberang pedagang mi koclok juga biasanya dapat kita temui pedagang jajanan pasar, seperti arem-arem, naga sari, koci dan jajanan pasar lainnya yang cocok kita bawa pulang sebagai oleh-oleh untuk di rumah.

Saat berada di Cirebon berkunjung ke Panjunan adalah sebuah pilihan yang tepat, karena di sini kita bisa mendapatkan perpaduan wisata yang cukup menarik. Selain karena aksesnya yang cukup mudah, kita juga dapat menikmati lezatnya mi koclok sambil menikmati suasana sore di perkampungan Arab dengan berlatar belakang masjid kuno nan eksotik.

Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Translate

Tentang Kami

Kami adalah Mahasiwa Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon yang sedang melakukan kegiatan obeservasi tentang Cagar Budaya di wilayah Cirebon salah satunya Masjid Merah Panjunan , Selamat Membaca yaa kawan-kawan semoga bermanfaat ilmu nyaa jikapun ada yang kurang apa yang kami sampaikan kami mohon maaf dan bisa beri komentarnya kawan-kawannya sekalian dikolom yang sudah tersedia.
" Terimakasih "

Halaman

Postingan Populer

Total Tayangan Halaman