Bangunan lama
mushala itu berukuran 40 meter persegi saja, kemudian dibangun menjadi
berukuran 150 meter persegi karena menjadi masjid.
Meskipun pendiri Masjid Merah Panjunan adalah seorang keturunan Arab, dan Kampung Panjunan adalah merupakan daerah permukiman warga keturunan Arab, namun pengaruh budaya Arab terlihat sangat sedikit pada arsitektur bangunan Masjid Merah Panjunan ini. Barangkali ini adalah sebuah pendekatan kultural yang digunakan dalam penyebaran Agama Islam pada masa itu.
Arsitektur Masjid Panjunan merupakan perpaduan budaya Hindu, Cina, dan Islam. Sekilas masjid ini tidak seperti masjid pada umumnya karena memang bentuk bangunannya menyerupai kuil hindu, adanya mihrab yang membuat bangunan Masjid Merah Panjunan ini menjadi terlihat seperti sebuah masjid, serta adanya beberapa tulisan berhuruf Arab pada dinding. Beberapa keramik buatan Cina yang menempel pada dinding konon merupakan bagian dari hadiah ketika Sunan Gunung Jati menikah dengan Tan Hong Tien Nio.
Ruangan utama Masjid Merah Panjunan langit-langitnya ditopang oleh lebih dari lima pasang tiang kayu. Umpak pada tiang penyangga juga memperlihatkan pengaruh kebudayaan lama. Sementara keramik yang menempel pada dinding memperlihatkan pengaruh budaya Cina dan Eropa.
Pada bagian mihrab dihiasi dengan keramik yang indah. Lengkung pada mihrab pun yang berbentuk paduraksa juga memperlihatkan pengaruh budaya lama. Di Masjid Merah Panjunan ini tidak ada mimbar, karenanya hanya digunakan untuk sholat sehari-hari, tidak untuk ibadah sholat Jumat, atau sholat berjamaah di Hari Raya Islam.
Tampak muka Masjid Merah Panjunan yang terbuat dari susunan batu bata merah yang pintu gapuranya memperlihatkan pengaruh Hindu dari zaman Majapahit yang banyak bertebaran di daerah Cirebon. Gapura yang susunan batanya berwarna merah memberikan nama tengah kepada masjid ini. Adalah Panembahan Ratu yang merupakan cicit Sunan Gunung Jati yang membangun tembok keliling bata merah setinggi 1,5 m dan ketebalan 40 cm pada tahun 1949.
Meskipun pendiri Masjid Merah Panjunan adalah seorang keturunan Arab, dan Kampung Panjunan adalah merupakan daerah permukiman warga keturunan Arab, namun pengaruh budaya Arab terlihat sangat sedikit pada arsitektur bangunan Masjid Merah Panjunan ini. Barangkali ini adalah sebuah pendekatan kultural yang digunakan dalam penyebaran Agama Islam pada masa itu.
Arsitektur Masjid Panjunan merupakan perpaduan budaya Hindu, Cina, dan Islam. Sekilas masjid ini tidak seperti masjid pada umumnya karena memang bentuk bangunannya menyerupai kuil hindu, adanya mihrab yang membuat bangunan Masjid Merah Panjunan ini menjadi terlihat seperti sebuah masjid, serta adanya beberapa tulisan berhuruf Arab pada dinding. Beberapa keramik buatan Cina yang menempel pada dinding konon merupakan bagian dari hadiah ketika Sunan Gunung Jati menikah dengan Tan Hong Tien Nio.
Ruangan utama Masjid Merah Panjunan langit-langitnya ditopang oleh lebih dari lima pasang tiang kayu. Umpak pada tiang penyangga juga memperlihatkan pengaruh kebudayaan lama. Sementara keramik yang menempel pada dinding memperlihatkan pengaruh budaya Cina dan Eropa.
Pada bagian mihrab dihiasi dengan keramik yang indah. Lengkung pada mihrab pun yang berbentuk paduraksa juga memperlihatkan pengaruh budaya lama. Di Masjid Merah Panjunan ini tidak ada mimbar, karenanya hanya digunakan untuk sholat sehari-hari, tidak untuk ibadah sholat Jumat, atau sholat berjamaah di Hari Raya Islam.
Tampak muka Masjid Merah Panjunan yang terbuat dari susunan batu bata merah yang pintu gapuranya memperlihatkan pengaruh Hindu dari zaman Majapahit yang banyak bertebaran di daerah Cirebon. Gapura yang susunan batanya berwarna merah memberikan nama tengah kepada masjid ini. Adalah Panembahan Ratu yang merupakan cicit Sunan Gunung Jati yang membangun tembok keliling bata merah setinggi 1,5 m dan ketebalan 40 cm pada tahun 1949.
Konon masjid ini
dibangun dalam waktu semalam dan yang menjadi arsiteknya ialah Pangeran Losari.
Lantai keramik berwarna merah marun, gerbang dan dinding dari bata berwarna
merah pula. Semula bernama Mushola Al-Athya namun dikarenakan bata merah yang
dijadikan pagarnya membuat mushola ini lebih dikenal Mesjid Batu Merah
Panjunan. Karena lokasinya berada di Kampung Panjunan Desa Panjunan, Kecamatan
Lemah Wungkuk, Kota Cirebon.
Gaya arsitekturnya
perpaduan tradisi Jawa, Cina, Eropa, dan Islam sehingga menghasilkan bangunan
yang unik dan menarik. Hal ini menjadi simbol akulturasi budaya serta
penyelarasan syari’i dan tradisi. Mesjid Merah disokong 17 tiang penyangga yang
melambangkan jumlah rakaat salat dalam sehari semalam.
Terdapat sebuah pagar yang
mengelilingi masjid ini yang terbuat dari susunan bata merah. Pagar tersebut
dibangun pada tahun 1949 oleh Pnembahan Ratu yang juga merupakan seorang cicit
dari Sunan Gunung Jati. Sama halnya bebarengan dengan pembangunan pintu masuk
dengan adanya bangunan candi Bentar dan pintu panel berukir dari jati. Kemudian
pada tahun 1978 dibangun menara yang berada di halaman depan sebelah selatan
masjid oleh beberapa masyarakat disana.
Masjid Merah Panjunan juga pernah
mengalami beberapa kali renovasi dan terakhir dilaksanakan pada tahun 2001
hingga 2002 oleh dinas kebudayaan dan pariwisata provinsi Jawa Barat. Renovasi
tersebut dilakukan dalam penggantian atap sirap masjid Merah Panjunan. Saat ini
masjid tersebut termasuk bangunan dengan ukurannya kecil. Jarak dari atap dan
lantai masjid seperti halnya rumah-rumah tua yang berada di Jawa. Pada bagian
bangunan utama masjid berukuran 25×25 meter dan juga halaman masjid tersebut
tidak terlalu luas. Lantai keramik masjid pun berwarna merah marun serta
gerbang dan dinding juga menggunakan bahan batu bata. Hal tersebut sangat
jarang digunakan karena biasanya bahan batu bata digunakan untuk membangun
candi. Masjid ini juga disokong dengan tiang penyangga yang berjumlah 17
dengan setiap ujungnya terdapat bentuk bintang delapan bunga. Tak hanya itu
saja, mesipun masjid Merah Panjunan ini tidak tergolong megah, namun bagian
interior masjid sangat menarik berhias berbagai hiasan seperti salah satunya
piring keramik yang menempel di dinding masjid.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar