Review 3. tentang kharismatik masjid merah panjunan

Salah satunya, Masjid Merah Panjunan yang dibangun pada abad ke-15, tepatnya pada 1480 Masehi. Bangunan masjid yang hampir seluruh bagiannya adalah batu bata merah itu, konon dibangun hanya dalam tempo waktu semalam.
Pengurus Masjid Merah Panjunan, Nasirudin, 38, menuturkan, berdasarkan cerita turun menurun sesepuh warga Panjunan bahwa masjid itu dibangun oleh murid Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, yaitu Syekh Abdurakhman atau yang dikenal dengan Pangeran Panjunan.
Versi lain menyebutkan, Masjid Merah Panjunan dibutlat oleh Sunan Gunung Jati dibantu oleh para wali dan murid-muridnya.
"Sejarah pembuatan masjid ini, hanya dibuat satu malam saja. Untuk material bangunan sendiri tidak ada yang lebih atau kurang, semuanya pas. Ukurannya pas," ungkapnya kepada JawaPos.com, Selasa (22/5).
Sebelum menjadi masjid, bangunan itu merupakan musala berukuran 40 meter persegi bernama Al-'Athiyya atau berarti pemberian atau cinderamata. Semula, musala itu menjadi tempat mukim bersama para imigran dari keturunan Arab, Baghdad dan Tiongkok.
Syarif Abdurrakhman atau Pangeran Panjunan adalah seorang putera keturunan Arab yang memimpin sekelompok imigran dari Baghdad, bernama Syekh Datul Kahfi atau Syekh Nurjati.
Nasir menceritakan, peran dari Masjid Merah Panjunan memiliki fungsi bukan saja menjadi tempat ibadah, tetapi juga sebagai tempat upacara pengabsahan atau pengangkatan seorang wali oleh Sunan Gunungjati.
"Masjid ini dulunya sebagai tempat pengesahan para wali, atau semacam sertifikasi atau ijazah kewalian dari Sunan Gunung Jati. Jadi, kalau ada pengangkatan wali acaranya Masjid Merah," tuturnya.
Keunikan lain di Masjid Merah Panjunan adalah, masih menggunakan metode perhitungan jam matahari atau Istiwa untuk menentukan waktu masuk salat.
Arsitektur bangunan Masjid Merah Panjunan sendiri mengandung perpaduan etnik Tiongkok, Jawa, dan Arab. Di bagian dinding-dinding tembok tertanam ornamen piring dan mangkok. Ornamen tersebut diriwayatkan sebagai hadiah atas pernikahan Sunan Gunung Jati dengan Ratu Nyi Hong Tien Nio.
Di bagian utama dalam masjid memiliki 17 pilar utama utama, yang menandakan jumlah keseluruhan rakaat salat lima waktu.
Pilar-pilar yang tersambung itu sama sekali tidak menggunakan alat perekat seperti paku atau semacamnya. Namun demikian, pilar-pilar kayu itu terlihat sangat presisi, terukur, dan kokoh hingga saat ini.
Di bagian atapnya menggunakan lembaran potongan kayu trembesi, yang konon dibawa dari Syekh Lemah Abang yang mengerti betul tentang kayu.
"Bagaimana cara buatnya, wallahu 'alam. Tapi semuanya nggak pakai alat modern. Kalau untuk urusan kayu, biasanya Syekh Lemah Abang yang mengusulkan kepada Sunan Gunung Jati," ujarnya.
Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Translate

Tentang Kami

Kami adalah Mahasiwa Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon yang sedang melakukan kegiatan obeservasi tentang Cagar Budaya di wilayah Cirebon salah satunya Masjid Merah Panjunan , Selamat Membaca yaa kawan-kawan semoga bermanfaat ilmu nyaa jikapun ada yang kurang apa yang kami sampaikan kami mohon maaf dan bisa beri komentarnya kawan-kawannya sekalian dikolom yang sudah tersedia.
" Terimakasih "

Halaman

Postingan Populer

Total Tayangan Halaman